Seperti Kertas - Puisi Lidia

 
Ilustrasi: Pixabay.com/dariuszsankowski





Seperti Kertas 

Kueja diri dari lembaran hari
ada hitam segelap malam
adalah khilaf lidah 
menggores kebeningan hatimu

Kucoba merangkai maaf
sebelum titik dosa kian menebal 
tapi kau lebih dulu menghapus salahku
dengan karet penghapus maaf
di ujung pensilmu

Katamu, kehidupan pendek ini
tak boleh memutus panjangnya 
silaturahmi kita 
sebab doa-doa baik akan berbiak 
hingga napas berujung di batu nisan

Aku terdiam dalam istigfar
memohon ampunan seluas alam
sedang kau tersenyum penuh syukur

Sungguh, hatimu benar putih
seperti kertas puisi ini

Sarjo, 25 Maret 2023




Kalender 

Kubaca tanggal
duapuluh satu terlingkar
kau belum ada kabar
mungkin akan tinggal
atau rupiahmu yang tipis
bikin menangis

Ibu tak pernah tahu
bagaimana sulitnya kau bertahan
hidup di kota besar
gaji kecil
banyak janji
hingga bulan habis

Angka di kalender berlari
dari senin sampai minggu
tapi kau tetap begitu
krisis
rindu ibu makin kronis

Pulanglah, Nak!
Hari raya ibu sepi
tanpa hiburanmu

Sebab kalender ini
tak memberi libur
untuk rindu ibu yang sibuk
menunggu
kau di depan pintu

Sarjo, 16 April 2023




Karpet Merah 

Karpet merah dihampar
berhias makanan melingkar
semut-semut ikut merapat
sebelum sempat kusapu bekas dudukmu

Kutata gelas-gelas
sepanjang merahnya karpet
ada wajahmu kembali duduk
di antara bundaran makanan itu
mataku berkaca

Keluarga telah berkumpul
menikmati segala rasa di piringnya
hambar
tanpa kau

Karpet merah ini 
masih menyisakan senyum dan 
bau parfummu
cerah di hari raya Fitri dulu

Namun, jauh yang tak tampak
di seberang kota
kau selalu disebut
dan karpet ini 
akan tetap menanti
kepulangan rindumu

Kau anak rantau
melambai dalam layar

Sarjo, 15 Maret 2023




Kemacetan Kota

Pada kemacetan kota
orang-orang kepanasan
menunggu lampu hijau

Dan lampu merah bergerak pelan
memandang wajah-wajah marah
kehilangan sabar

Di hentian itu
kau menabrak aturan
berburu waktu berbuka puasa
adalah dusta berlapis-lapis
lebih manis dari kue lapis
yang sebelumnya diam-diam kau makan
di kantor kerjamu

Kau menerobos lampu merah
tanpa peduli peluit polisi
hingga terjatuh mencium tanah

Mungkin begitulah
caramu menjalani hidup ini
berjalan tanpa kompas
membuang nasihat-nasihat

Sarjo, 05 April 2023




Baca juga: puisi Renungan Pagi di sini

Posting Komentar

0 Komentar