Perempuan di Sudut Kota (Puisi)

 
Ilustrasi: pixabay.com




Perempuan di Sudut Kota

Aku melihatnya merenung
di bawah lampu jalan sepi
Duduk menatap kilau bintang.
Barangkali ia ingin rehat
Dari riuhnya gelisah yang sesak

Perempuan di sudut kota
Bermatakan maskara sendu
Dengan wajah berpupur kepalsuan
Dan bibir bergincu darah 
dari luka batinnya sendiri

Ia bingung, memangku beban masa depan
anaknya yang ingusan
Tak paham dunia malam sang ibu
Yang ditinggal kekasih demi kekasih lain

Di sudut kota paling lelah
Perempuan menjelma tulang punggung paling kokoh
Bagi punggung-punggung anaknya
Menjual suara di setiap pesta
Yang mungkin ditolak semesta

Sarjo, 21 Juni 2020



Kotak Mimpi

Kutabung harapan dalam bilik 
saat memilih gambar paling akhir
di lembar peraduan 

Bilik itu berisi suara-suara 
yang kelak disalahkan
ketika amanah luruh dari keranjang tubuh
dan janji hanya di ujung lidah

Tetapi impian terlanjur tumpah 
dalam kotak suara yang bisu
menyisakan sesal tak bertepi
yang selalu terulang lima tahun sekali

Dari kotak itu pula 
kata-kata manis lahir
hingga langkah sebatas tombol 
dikendalikan oleh mereka yang berdasi

Sarjo, 09 Desember 2020



Bengkel Hati

Dalam kegersangan hidup
Adakah bengkel yang bisa kutuju
Untuk menambal hati,
yang tertusuk jarum keresahan

Kepada dokter aku bertanya
"Adakah obat paling ampuh menghapus ingatan"
Ia pun menatapku penuh makna
"Kau tak perlu menghilangkan jejak-jejak  ingatanmu, yang kau butuhkan hanyalah  obat lelap, untuk menenangkan pikiranmu dari riuhnya perasaan.

Tapi, obat itu reaksinya sementara bagi lukaku yang menetap.

Sepertinya aku harus mendengarkan kidung guru agamaku yang merdu, mungkin saja dia punya penawar 

Pada guruku yang maha tahu, kutemukan secercah pencerahan
"Mintalah hati baru pada Tuhanmu yang maha baik dan benar!"

Yah!
Obat, doa, usaha adalah jalan lurus melupakanmu.

Sarjo, 07 April 2020



Kepala Batu

Sekantong ego terjual hari ini
Setelah ia menerobos lampu larangan
di perempatan zona merah
dan membayarnya dengan alasan

Ia suka bermain-main di jalan itu
Tapi tak pernah ingin dipermainkan
apalagi soal aturan,
Sampah!
Katanya mendidih,
Komat-kamit.
Amit-amit!
Ia pergi tanpa pamit.

Sarjo, 22 Mei 2020



Bermain Api

Senyum berubah abu
bekas pembakaran sampah yang apinya berasal dari bara masa lalu
Kunyalakan tanpa ragu
Tanpa tahu memadamkan

Api itu membakarku tak henti-henti
meski hujan menyirami 
Sebab kesalahan menjelma kayu

Senyum berubah abu
Setelah asap kenangan mengepul 

Sarjo, 14 Desember 2020



Belajar Menabung(Sabar)

Di tungku kegentingan,
Ia belajar menanak seadanya
Sebagai hidangan purna 
bagi jiwa yang setengah matang 
dikoyak suasana,

"Aku menabung ingin ini-itu, hingga suatu saat celengan rasaku memecahkan dirinya sendiri"

Di atas meja makan tak berselera itu, anaknya melukis ragam makanan dalam angannya.
"Tuhan, diamkanlah gemuruh lapar dalam perutku, semoga nikmat syukur hari ini tahu cara mengukur cukup-lebihnya.

Sarjo, 09 April 2020



Baca juga: puisi Kepada Telepon di sini

Posting Komentar

0 Komentar